Hukum Sunat dalam Islam Bagi Pria dan Wanita

Hukum sunat dalam Islam adalah wajib. Namun beberapa ulama memiliki perbedaan pandangan terkait hukum ini dalam Islam. Hal ini karena penjelasan tentang perintah untuk sunat atau khitan tidak terperinci di dalam Al-Quran. Masalah khitan tercakup dalam hadist Rasulullah SAW, sehingga ada perbedaan pandangan tentang hal tersebut.

Beberapa ulama juga memiliki pandangan bahwa, bukan hanya laki-laki yang wajib untuk khitan, namun perempuan juga hukumnya sunah dalam menjalani perintah ini. Hal tersebut karena kefitrahan yang dimaksud Rasul SAW dan riwayat oleh Bukhari dan juga Muslim tercantum dalam hadis. Oleh karena itu, ulama pada golongan ini menetapkan sebuah kewajiban untuk berkhitan bagi laki-laki maupun perempuan.

Hukum sunat dalam islam bagi laki-laki 

Penjabaran hukum sunat dalam Islam oleh Imam Abu Dawud dan juga Ahmad. Buanglah darimu buku (rambut) kekufuran dan laksanakan khitan. Atas dasar perintah inilah, mayoritas ulama, seperti Imam Syafi’i, Hambali, sebagian pengikut Imam Maliki dan Abdurrahman Al-Auza’i sepakat menetapkan hukumnya wajib bagi seorang laki-laki.

Ulama Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni menjelaskan hukum sunat dalam Islam untuk laki-laki adalah wajib. Ibnu Qudamah juga berpendapat bahwa, hukum sunat dalam Islam bagi perempuan adalah kemuliaan. Alasan Ibnu Qudamah menetapkan hukum ini adalah ayat Al-Quran surah An-Nisa, ayat 125.

Sementara itu riwayat hadis oleh Imam Muslim, Imam Bukhari, Imam Baihaqi, dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA. Ibrahim Khalilurrahman melaksanakan sunat atau khitan setelah berumur 80 tahun dengan menggunakan alat tradisional yaitu kapak. Bahkan dalam sebuah riwayat, Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah khitan atau sunat di umur 80 tahun. Hal inilah yang membuat hukum untuk berkhitan atau sunat begitu kuat.

Adapula seorang ulama yang menentang hukum sunat dalam Islam, yaitu Salman al-Farisi. Salman Alfarisi berpendapat jika ketika masuk Islam tidak perlu melakukan khitan. Pendapat Salman ini berlandaskan pada sabda Nabi SAW, yaitu, khitan hukumnya sunnah bagi laki-laki dan kehormatan (makrumah) bagi perempuan yang menjalankan.

Tidak ada yang mengetahui, apakah sebenarnya Salman Al Farisi sendiri sudah melakukan khitan atau belum. Hal ini karena Salman juga dikenal sebagai seorang cendikiawan muslim yang cukup hebat, khususnya dalam hal dalil dan juga ayat Al-Quran.

Hukum sunat dalam islam bagi perempuan 

Hukum sunat ini telah menjadi perbincangan lama oleh para ulama. Ada ulama yang berpendapat khitan pada perempuan sunnah, namun ada juga yang berpendapat bahwa ini hanya suatu keutamaan saja. Sunat dalam Islam bagi perempuan masih terus menjadi perdebatan, karena tidak ada landasan ayat maupun hadis yang sahih untuk menjelaskan perintah tersebut.

Ulama Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah berpendapat bahwa, semua hadis yang membahas pelaksanaan sunat perempuan dalam Islam hukumnya dhaif atau lemah. Bahkan Ulama Sayyid Sabiq juga berpendapat jika tidak menemukan satu hadist pun yang kuat tentang anjuran sunat pada perempuan.

Di tempat lain, para ulama bersepakat jika hukum sunat dalam islam untuk seorang mualaf atau orang yang baru masuk Islam, baik tua maupun muda adalah wajib. Hadis dari az-Zuhri menyatakan bahwa jika setiap orang yang baru masuk Islam wajib melakukan sunat meskipun sudah berumur. Khitan atau sunat untuk para mualaf biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan ikrar atau pembacaan dua kalimat syahadat saat masuknya mereka sebagai seorang muslim.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Raya Jatiasih No. 7, Jatiasih – Kota Bekasi 17423

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

0811-1720-302

marketingrumahsunat@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now